Headline, jurnalistik

INTEGRASI KEILMUAN ERA MODERNISASI TERHADAP TWIN TOWERS UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

Oleh : Dina Tia Fatikasari

Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah Komunikasi

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

ABSTRAK
Twin Towers UINSA merupakan salah satu landmark baru di Surabaya yang menarik perhatian banyak orang. Namun, di balik kemegahan dan modernitasnya, terdapat berbagai realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan kajian pustaka. Yaitu kajian di mana sumber-sumber refrensinya didapat melalui sumber-sumber kepustakaan, buku, jurnal, artikel, majalah, dan sumber-sumber lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, focus group discusion, dan analisis dokumen. Penelitian dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu jam kerja pada 19 Maret 2024. Secara geografis Twin Towers UINSA terletak di Jl. Ahmad Yani No.119, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Kota SBY, Jawa Timur 60235, Indonesia, Kota Surabaya. Hasil penelitian Twin Towers UINSA mewakili paradigma keilmuan yang holistik dengan mengintegrasikan ilmu agama Islam dengan ilmu-ilmu umum seperti sosial, sains, dan teknologi. Hal ini memungkinkan terciptanya mahasiswa yang memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang berbagai aspek kehidupan.
Kata Kunci : paradigma, Twin Towers, Integrasi

 

ABSTRAC
        The UINSA Twin Tower is one of the new landmarks in Surabaya that attracts the attention of many people. However, behind its splendor and modernity, there are various social realities that occur around it. The research method used is a literature review. This is a study where the reference sources are obtained through library sources, books, journals, articles, magazines and other sources. The data collection techniques used in this qualitative research are in-depth interviews, participant observation, focus group discussions, and document analysis. The research was carried out in accordance with the allocated working hours on March 19 2024. Geographically, the UINSA Twin Tower is located on Jl. Ahmad Yani No.119, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, SBY City, East Java 60235, Indonesia, Surabaya City. The results of the Twin Towers UINSA research represent a holistic scientific paradigm by integrating Islamic religious knowledge with general sciences such as social, science and technology. This allows the creation of students who have a broad and deep understanding of various aspects of life.
Keywords: paradigm, Twin Towers, Integration

 

PENDAHULUAN
Munculnya berbagai paradigma baru[1]dalam kampus Islam hari ini tidak dapat dipisahkan dari tradisi-tradisi intelektual Islam serta tradisi-tradisi intelektual Barat. Banyak tokoh-tokoh pemikir muslim Arab juga Barat pemikirannya diadopsi oleh pemikir muslim Indonesia.
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, struktur dan bentuk dari suatu Universitas juga mengalami perubahan. Salah satu contohnya adalah pembangunan Twin Tower di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA). Pembangunan ini tidak hanya membawa dampak pada UINSA, tetapi juga pada realitas sosial yang ada di sekitarnya.
Universitas Islam di Indonesia basis kurikulumnya dirasa terlalu berkutat pada bidang agama yang sifatnya normatif. Jauh sebelum itu dunia Barat menemukan pemahaman baru di abad ke- 14 yang disebut dengan istilah Renaisannce.[2]
Mendialogkan keilmuan inilah juga ingin digagas oleh kampus UIN Sunan Ampel Surabaya dengan jargonnya Integrasi Twin Towers. Integrasi sendiri adalah penyatuan atas dua entitas menjadi satu entitas (satu paradigma keilmuan). Dalam dunia kampus khususnya kampus yang mempunyai basis Islam integrasi adalah sebuah kajian baru. Kajian integrasi tentunya tidak bisa dipisahkan terhadap kajian-kajian antara agama dan sains. Dalam pandangan Ian Barbour yang dikutip oleh Siful Arifin dalam artikelnya yang berjudul Model Integrasi antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama dalam PTAIN menjelaskan bahwa hubungan antara agama dan sains dibedakan menjadi empat, diantaranya adalah konflik, pemisahan, dialog, dan terakhir adalah integrasi pemaduan. Integrasi sendiri sendiri dijelaskan oleh M. Syamsul Huda dalam tulisannya yang berjudul Integrasi Agama dan Sains Melalui Pemaknaan Filosofis Integreted Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya memiliki tiga karakteristik makna yang berbeda Integrasi sebagai kata kerja mempunyai makna mengintegrasikan, menggabungkan, menyatupaduka dua entitas menjadi satu entitas. Integrasi sebagai kata benda bermakna penggabungan atau pengeintegrasian. Terakhir integrasi sebagai kata sifat bermakna suatu hal yang utuh, bulat, dan integral.[3]
Twin Tower UINSA merupakan salah satu landmark baru di Surabaya yang menarik perhatian banyak orang. Namun, di balik kemegahan dan modernitasnya, terdapat berbagai realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Realitas tersebut mencakup interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan perubahan pola hidup mahasiswa. Namun, penelitian tentang realitas sosial di sekitar Twin Tower UINSA masih sangat terbatas.
Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas dan mendalam tentang realitas sosial yang terjadi di sekitar Twin Tower UINSA. Penelitian ini juga penting untuk melihat bagaimana mahasiswa sekitar merespon dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait dalam merumuskan kebijakan dan strategi yang dapat membantu masyarakat sekitar dalam menghadapi perubahan tersebut.
 
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan kajian pustaka. Yaitu kajian di mana sumber-sumber refrensinya didapat melalui sumber-sumber kepustakaan, buku, jurnal, artikel, majalah, dan sumber-sumber lainnya sebagai landasan untuk meneliti objek material yang diangkat. Dan dalam kajian ini nantinya akan didapat sebuah tinjauan dalam sebuah perspektif yang merupakan sebuah antitesis untuk mencari sebuah jalan Solusi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, focus group discusion, dan analisis dokumen. Penelitian dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu jam kerja pada 19 Maret 2024. Secara geografis Twin Tower UINSA terletak di Jl. Ahmad Yani No.119, Jemur Wonosari, Kec. Wonocolo, Kota SBY, Jawa Timur 60235, Indonesia, Kota Surabaya.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik:
1. Observasi Pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat segala sistematik gejala-gejala yang diselidiki.28 Menurut Sukardi, observasi adalah cara pengambilan data dengan menggunakan salah satu panca indra yaitu indra penglihatan sebagai alat bantu utamanya untuk melakukan pengamatan langsung, selain panca indra biasanya penulis menggunakan alat bantu lain sesuai dengan kondisi lapangan antara lain buku catatan, kamera, film proyektor, checklist yang berisi objek yang diteliti dan lain sebagainya. Observasi harus dilakukan secara teliti dan sistematis untuk mendapatkan hasil yang bisa diandalkan, dan peneliti harus mempunyai latar belakang atau pengetahuan yang lebih luas tentang objek penelitian mempunyai dasar teori dan sikap objektif.
2. Wawancara Interview adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonsentrasikan makna dalam suatu topik tertentu. Ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan cara tatap muka antara pencari informasi dan sumber informasi. Adapun wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak berstruktur, dimana di dalam metode ini memungkinkan pertanyaan berlangsung luwes, arah pertanyaan lebih terbuka, tetap fokus, sehingga diperoleh informasi yang kaya dan pembicaraan tidak kaku. Bentuk memperoleh informasi yang tepat dan objektif, setiap interviewer harus mampu menciptakan hubungan baik dengan interview.
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Paradigma Keilmuan UIN Sunan Ampel Surabaya
Dimulai pada tahun 1961, para tokoh pendiri IAIN memfokuskan untuk sebuah membuat lembaga pendidikan tinggi yang mengkhusukan pendalaman ilmu agama Islam. Dengan turunnya SK Menteri Agama Nomor 17 Tahun 1961 menunjukkan bahwasannya telah resmi terbentuklah Panitia Pendiri IAIN Cabang Surabaya yang memutuskan mendirikan IAIN dengan fakultas yang tidak terpusat di satu kota dan kala itu masih menginduk IAIN Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Sesuai dengan namanya, Sunan Ampel yang diambil dari nama salah seorang Walisongo, tokoh penyebar Islam di Surabaya, UINSA mengadopsi bagaimana trik berdakwah Sunan Ampel pada masanya.
Konon, Sunan Ampel yang bernama asli Ahmad Rahmatillah ini, menggunakan pendekatan kultur budaya untuk berdakwah. Hal ini dilakukan dengan cara beradaptasi dengan kondisi masyarakat, menyerap budaya yang ada, dan menempuh cara yang berangsur-angsur. Semangat ini pula yang digaungkan oleh UINSA sehingga mensinergitaskan antara ilmu agama dan ilmu umum sesuai perkembangan yang ada di era saat ini. Pada akhirnya di tanggal 1 Oktober 2013 melalui Perpres No. 65 tahun 2013, status kelembagaan IAIN Sunan Ampel telah resmi berubah menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya atau disingkat dengan sebutan UINSA Surabaya. Di tanggal 26 April 2016, Twin Towers secara resmi diresmikan oleh Mentri Agama.
2. Konsep Integrasi Keilmuan Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya
Beberapa pemikir muslim di zaman ini mulai menyadari akan kemajuan yang dicapai oleh bangsa Barat sangatlah pesat. Para pemikir muslim ini mencoba membuat rumusan baru untuk menandingi capaian yang didapat oleh bangsa Barat. Salah satunya merupakan dengan merekonstruksi ulang paradigma pemikiran Islam yang dinilai terlalu redukdionis (hanya sekeliling agama saja). Salah satu penafsiran yang coba dimunculkan ialah dengan menyusun paradigma baru, seperti “Islamisasi Ilmu Pegetahuan”, secara positif paradigma yang dikembangkan tersebut menerima sains Barat, meskipun semua itu harus tetap di dalam nilai-nilai keislaman.[4]
Keterbelakangan yang dialami umat muslim selama ini oleh para cendekiawan muslim dikarenakan terdapat pola berfikir yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan 7 ilmu-ilmu umum. Ketertinggalan ini begitu sangat disadari oleh para cendekiawan muslim, dengan perlunya menggali beberapa metode-metode yang dikembangkan oleh Barat. Salah satunya adalah keilmuan yang bercorak sain (empiris-rasionalis), sosial-humaniora, dan tentunya IPTEK.
 Jika ditinjau historisitas Islam masa lalu, Islam tidak pernah memisahkan antar ilmu agama dan ilmu eksakta. Dunia Islam di abad VI-XXI M mengalami kejayaan yang luar biasa disegala bidang, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Pada saat itu dunia Islam menjadi mercusuar keilmuan bagi bangsabangsa Barat. Dilihat saja saja dalam bidang filsafat lahir seorang pemikir muslim yang luar biasa, sebut saja al-Kindi, Ibnu Sina, maupun Abu Yazid. Tokoh dibidang sains lahir sosok luar biasa sepertihalnya Ibnu Hayyam, al-Khawarizmi, alRazi, serta al-Mas’udi. Lahir juga ulama panutan dunia di bidang fiqih seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, serta Imam Ahmad bin Hambal.[5]
Dalam konteks perguruan tinggi, khususnya UIN di Indonesia mencoba membuat sebuah formulasi perihal pentingnya integrasi keilmuan tersebut. Salah satunya adalah yang dikembangkan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya. Para cendikiawan UIN Sunan Ampel mencoba merumuskan landasan keilmuan yang sifatnya integrasi. Dan metafor yang digunakan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya untuk integrasi keilmuan tersebut adalah paradigma Integrasi Twin Towers, metafor tersebut dicirikan dengan adanya gedung yang berbeda yang dibawahnya terdapat jembatan penghubung.
UINSA yang awalnya adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini telah menempuh perjalanan panjang berliku untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan paradigma keilmuan model menara kembar tersambung (integrated twin-towers) seperti saat ini. Dengan merubah paradigma lama menjadi paradigma baru (yaitu dari institusi ke Universitas). Hal yang melatarbelakangi perubahan tersebut adalah faktor Integrasi keilmuan, yakni bagaimana UIN Sunan Ampel Surabaya mampu merumuskan sebuah nilai universal, dan di dalam nilai tersebut terjalin hubungan dan perpaduan antara berbagai macam keilmuan. Selain faktor keilmuan, juga laju zaman pada level lokal, nasional, maupun global.
Peralihan kelembagaan IAIN menjadi UIN ini sempat menimbulkan pro dan kontra karena dikhawatikan jika berubah menjadi UIN akan meminggirkan ilmu-ilmu agama Islam dan khawatir fakultas ilmu agama menjadi tenggelam dan lebih dididominasi oleh fakultas lain.
Walaupun masih ada Sebagian masalah dalam pengembangan keilmuan Integrasi Twin Towes, akan tetapi harus dilihat dari relaitas mengembangkan keilmuannya juga wadah keilmuannya. Kekuatan model ini setelahnya disatukan oleh pengehubung antara kedua keilmuan, sehingga memberikan corak tersendiri dari keilmuan baru yang muncul. Tentunya kedua keilmuan tersebut juga harus ditempatkan pada rumahnya sendiri-sendiri. Sehingga gambaran empiris begitu sangat kuat. Kemudian di antara menara tersebut dihubungkan dengan pendekatan epistemologi yang saling mengaitkan satu sama lain. Inilah kenapa Paradigma Integrasi Twin Towers Uinsa menutupi kelemahannya dengan pendekatan yang ada. Lambing Menara tersebut memang gabungan dari dua unsur keilmuan yang berbeda, namun dipertemukan menjadi satu lewat konstruksi epistemolgis yang disengaja.[6] Dan pada level ontologis, fondasi di bawah menampakkan kemenyatuan yang sama dengan jembatan penghubung di atas. Dari sana nantinya hal tersebut akan membentuk keilmuan yang bersifat Multidisipliner. Munculnya diskursus kajian Multidisipliner inilah yang membedakan antara Universitas Islam dan Universitas umum.
Paradigma Integrasi Twin Towers dalam perkembangannya nanti bukan tanpa masalah serta rintangan. Pertemuan menghasilkan keilmuan yang integratif bukan secara otomatis akan ada kemenyatuan, bisa jadi sebaliknya akan ada keilmuan yang salaing mendominasi satu dengan yang lainnya. Jika itu terjadi, maka dikotomisasi keilmuan akan Nampak jelas dalam UIN Sunan Ampel Surabaya. Di era modern yang serbah canggih dan cepat, ilmu-ilmu agama dianggap tidak memiliki kontribusi apa-apa dalam memajukan kehidupan. Kesulitan dalam SDM juga akan dirasakan, bagaimana ketika UIN Sunan Ampel Surabaya mencetakmahasiswa yang ahli ilmu umum dan juga sekaligus ahli ilmu agama ataupun sebaliknya. Ini juga akan berimbas pada sturuktur yang ada di dalam kampus semua harus dituntut memiliki kedua keahlihan tersebut. Dari sini UIN Sunan Ampel Surabaya harus secara konsekuen menerapkan penyeleksian secara ketat SDM dosen agar memenuhi tuntutan yang dicita-citakan.
3. Filosofi Twin Towers di UIN Sunan Ampel Surabaya
Bangunan Twin Towers itu sangat orisinal. Bangunan kembar itu dihubungkan antara satu dengan yang lain, dengan bangunan yang diberi asesori lafadz-lafadz Asmaul Husna. Itulah filosofi yang mendasari kenapa bangunan tersebut disebut Twin Tower Asmaul Husna. Gedung yang direncanakan berlantai sembilan tersebut, juga mengandung makna angka sembilan puluh sembilan, sebagai pengejawantahan asmaul husna, dan angka sembilan juga merujuk kepada jumlah wali di Jawa yang jumlahnya diyakini sebanyak sembilan orang.
Filosofi twin towers Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya adalah tentang menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum, sesuai dengan visi-misi UINSA. Mereka ingin mahasiswanya tidak hanya jadi ahli agama, tapi juga memahami ilmu-ilmu lain seperti sosial, sains, dan teknologi. Inspirasi ini diambil dari Sunan Ampel, yang menggunakan pendekatan budaya untuk berdakwah. UINSA berusaha mempertahankan identitas keislaman sambil mengikuti perkembangan zaman. UINSA juga menawarkan suasana belajar yang nyaman dengan sarana dan prasarana yang optimal, serta akses mudah bagi mahasiswa untuk mencari referensi dan menjalani kehidupan sehari-hari di sekitar kampus.
Universitas yang berbasis keagmaan di Indonesia mencoba memasukkan kerangka paradigma keilmuan Integratif-Multidisipliner. Arah dari paradigma keilmuan tersebut dalam pengembangan keilmuan diusahakan dengan menggunakan dua cara yaitu obejek formal (pendekatan) dan objek material (objek yang disasar). Misal dalam kerangka studi al-Qur’an muncul kajian tafsir al- Qur’an menggunakan pendekatan Hermeunetik.
Dalam wilayah ilmu Tarbiyah bisa dipertemukan dengan kajian-kajian sosiologi, teknologi, dan politik. Sehingga yang dimunculkan adalah Sosiologi Pendidikan Islam, Teknologi Pendidikan Islam, dan Politik Pendidikan Islam. Para digmatik yang digagas oleh UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut dilandasi bahwa antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum mempunyai basis landasan dan dapat berkembang sesuai dengan karakter obejek kajian masing-masing. Diharapkan dalam perkembangannya kedua entitas keilmuan tersebut dapat saling menyapa, bertemu, dan saling mengaitkan satu sama lain dalam konektifitas.
Pandangan semacam ini yang kemudian diwujudkan dalam paradigmatik-filosofis Integrated Twin Towers. Diharapkan dari adanya wacana tersebut mampu memberikan perhatian bagi pengembangan keilmuan pada dua basis keilmuan, sehingga mampu menjadi cahaya bagi satu dengan yang lain. Bagi kalangan cendekiawan UIN Sunan Ampel Surabaya proses ketersambungan seharusnya berbasis Integrasi Twins Towers (menara kembar tersambung).
Bagi Mahzab UIN Sunan Ampel Surabaya untuk mendialogkan keilmuan yang berbasis agama dan nonagama seharusnya tanpa perlu adanya Islamisasi pengetahuan. Cukup dengan melihat dua entitas keilmuan tersebut berjalan sesuai koridornya masing-masing, yang penting setelah kedua keilmuan tersebut berada dipuncak haruslah disambungkan dan dikomunikasikan.
Oleh Nur Syam disebut sebagai keilmuan berbasis mutidisipliner. Istilah Twin Towers diambil dari bahasa Inggris, yaitu tower yang memiliki arti menara, tempat yang menulang tinggi. Secara fisik menara dapat ditemukan di hampir kebanyakan tempat di dunia, di masjid semisal juga terdapat sebuah menara, guna untuk melantunkan adzan. Juga banyak gedung-gedung perkantoran yang rata-rata bangunannya menjulang tinggi ke atas.
Namun dalam kajian keilmuan, tower biasanya diartikan sebagai intelektual menara gading. Analogi tersebut ditujukan bagi seorang cendekiawan yang dalam konsepannya selalu melangit. Sedangkan Integrasi Twin Towers dalam padangan kampus UIN Sunan Ampel Surabaya yaitu memperlihatkan kehebatan seorang manusia yang dalam perjalanannya mampu menyatukan entitas yang berbeda, kemudian menyimpulkannya dalam satu entitas yang sifatnya universal.
Meskipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam pengembangan keilmuan Integrasi Twin Towes, namun harus dilihat dari relaitasnya dalam mengembangkan keilmuannya juga wadah keilmuannya. Kekuatan model ini kemudian disatukan oleh sebuah jembatan pengehubung antara kedua keilmuan, sehingga memberikan warna tersendiri dari keilmuan baru yang muncul.
Dalam konteks keilmuan yang berdiri sendiri, tentunya juga harus ditempatkan pada rumahnya sendiri. Sehingga gambaran empirisnya begitu sangat kuat. Kemudian, diantara menara tersebut disambungkan dengan pendekatan epistemologi yang saling mengaitkan satu sama lain. Inilah mengapa Paradigma Integrasi Twin Towers menutupi kekurangnnya dengan pendekatan yang ada. Ia memang gabungan dari dua entitas keilmuan yang berbeda, tetapi dipertemukan menjadi satu melalui konstruksi epistemolgis yang memang disengaja.130 Dan pada level ontologisnya, fondasi dibawah memperlihatkan kemenyatuan yang sama dengan jembatan penghubung diatas.
Inilah yang nantinya membentuk keilmuan yang bersifat Multidisipliner. Dan dari munculnya kajian Multidisipliner inilah yang membedakan antara Universitas Islam dan Universitas umum. Memalui perubahan kelembagaan yang begitu rumit, maka wider mandate yang sudah menjadi bagian integral dalam pengembangan ilmu- ilmu keislaman multidisipliner akan menjadi semakin nampak dan jelas sosoknya. Seharusnya kita harus melihat realitas perkembangan zaman yang sesungguhnya, baik di dalam mengembangkan keilmuan atau dalam wadah pengembangannya.


KESIMPULAN
Twin Towers UINSA mewakili paradigma keilmuan yang holistik dengan mengintegrasikan ilmu agama Islam dengan ilmu-ilmu umum seperti sosial, sains, dan teknologi. Hal ini memungkinkan terciptanya mahasiswa yang memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang berbagai aspek kehidupan.
Konsep integrasi Twin Towers UINSA menggambarkan upaya untuk menggabungkan berbagai disiplin ilmu secara sinergis, sehingga menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan kolaboratif. Pendekatan ini memungkinkan dialog antarbidang ilmu dan penerapan pengetahuan yang holistik dalam pemecahan masalah kontemporer. Filosofi Twin Towers di UINSA menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keilmuan Islam dengan pendekatan budaya dan kontekstual dalam pendidikan tinggi.
Dengan mengadopsi nilai-nilai dakwah Sunan Ampel, UINSA berkomitmen untuk mempertahankan identitas keislaman sambil mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat global. Dengan demikian, Twin Towers UINSA tidak hanya merupakan simbol fisik, tetapi juga mencerminkan visi dan misi institusi untuk menyediakan pendidikan yang holistik, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
 
SARAN
Studi mengenai efektivitas implementasi paradigma keilmuan Twin Towers dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap hubungan antara ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum. Penelitian ini dapat melibatkan survei terhadap mahasiswa untuk mengevaluasi sejauh mana integrasi antarbidang ilmu terjadi dalam kurikulum dan pengajaran.
Penelitian tentang dampak paradigma integrasi Twin Towers dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang kompleks dengan pendekatan multidisiplin. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola kolaborasi antarbidang ilmu dalam proyekproyek penelitian atau kegiatan akademik lainnya.
Penelitian mengenai persepsi mahasiswa, dosen, dan staf administrasi terhadap filosofi Twin Towers sebagai landasan pengembangan kurikulum dan strategi pembelajaran di UINSA. Pendekatan kualitatif seperti wawancara mendalam dan analisis konten dapat digunakan untuk memahami pemahaman dan penerimaan terhadap konsep ini dalam konteks pendidikan tinggi Islam.
 
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abd, Uinsa Emas, Menuju World Class University, “Smart, Pious, and Honourable”, Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2016.
Al-Faruqi, Ismail ar-Raji, Islamization of Knowledge, New York: Harvester Whealtshelat, 1987.
Fahmi, Muhammad, “Tantangan Interkoneksi Sains Dan Agama di IAIN Sunan Ampel” , Jurnal Pendidikan Agama Islam, Volume 02, No, 02. November 2013.
Huda, M. Syamsul, “Integrasi Agma dan Sains Melalui Pemaknaan Filosofis Integrated Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya”, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islma, Volume 7, Nomor 2, Desember 2017
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Rahman, Fazlur, Islam, Trej Ahsin Mohammad, Bandung: Penerbit Pustaka, 1984.

[1] Istilah Paradigma sendiri dicetuskan oleh Thomas S Kuhn, dalam bukunya yang
berjudul The Structure of Scientific Revolution, bahwa Kuhn membagi paradigm menjadi
dua puluh dua paradigm. kemudian disempurnakan oleh Ritzer George, Sosiology: A
Multiple Paradigm Science, (Trej) Alimandan, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda
(Jakarta: Rajawali Press, 2016). menyederhahanakan menjadi tiga paradigma, yaitu
Paradigma Fakta Sosial, Pradigma Definisi Sosial, dan Paradigma Prilaku Sosial.
[2] F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli Sampai Nietzsche) (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011), 7.
[3]M. Syamsul Huda, “TEOSOFI: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam”, Jurnal Teosofi, Vol 7, No
2. Desember, 2017, 33.
[4] Osman Bakar, Tauhid Dan Sains: Esai-Esai Tentang Sejarah Dan Filsafat Sains Islam
(Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), 233.
[5] Harun Nasution, , Pembaharuan Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 13.
[6] Fahmi, “Tantangan Interkoneksi Sains Dan Agama Di IAIN Sunan Ampel, 331-332.”